Wisata Alam Dan Sejarah Desa Cipaku, Purbalingga

Posted By Wisata Purbalingga on Saturday, 7 February 2015 | 04:51

Paguyuban Wisbangga - Desa Cipaku terletak di Kecamatan Mrebet, Kabupaten Purbalingga. Merupakan Desa yang terluas di Kecamatan Mrebet. Di Desa Cipaku terdapat beberapa potensi wisata alam yang cukup indah dan beberapa situs sejarah, diantaranya : Curug Nini, Batu Lingga Yoni, Curug Cingongah, Telaga Bolangirit dan Watu Tulis. Dengan adanya Curug Nini dan Curug Cingongah yang sebagian masyarakat Purbalingga  mungkin belum tahu tentunya  akan menambah Destinasi Wisata Purbalingga yang sudah terkenal dengan sebutan Negeri Seribu Curug .

Curug Nini
Curug Nini
Salah satu wisata alam yang memberikan nuansa yang sejuk dan asri adalah Curug Nini . Curug Nini memiliki ketinggian hanya sekitar 10 meter dengan sebuah kolam yang cukup luas dibawahnya dan memiliki mata air yang mengalir ke kolam tanpa henti membuat kolam di Curug Nini tidak pernah kering meskipun musim panas datang. Kolam ini banyak dikelilingi  pohon pandan, dan di apit oleh bukit-bukit yang berpohon rindang.

Kini air terjun ini lebih dikenal dengan sebutan yang keliru yaitu Curug Mini,mungkin karena bentuknya yang kecil jadi orang menyebutnya Curug Mini. Menurut penduduk Cipaku, yang benar adalah “Curug Nini”. Curug Nini merupakan bagian dari hulu sungai Pingen. Air dibendung untuk irigasi. Berada di perbatasan Desa Pagerandong dan Desa Cipaku jadi  dapat ditempuh dari dua arah.

Akses jalan menuju kawasan Curug Nini dapat Anda lalui melewati Pasar Karangnangka menuju arah barat ke Desa Cipaku dengan menempuh perjalanan tiga kilometer. Jika telah sampai di Balai Desa Cipaku ambil jalan kekanan melewati jalan tanah sekitar 200 meter dan sampailah di lokasi Curug Nini. Wisata air terjun Curug Nini memang menawarkan panorama alam yang sangat indah dan masih alami. Tak heran, banyak masyarakat Purbalingga yang sering mengisi liburan panjang atau akhir pekan di tempat ini.

Batu Lingga dan Yoni
Dari sekitar Balai Desa Cipaku ke selatan, lewat jalan desa dapat mengunjungi situs sejarah. Di dukuh Bataputih ini terdapat dua buah Batu Lingga dan Yoni. Batunya bulat lonjong bagai telur. Situs ini berada di atas sebuah kolam penampungan air, masyarakat setempat menyebutnya Telaga Bataputih. 
Mata-airnya cukup besar dengan air yang jernih dan sejuk. Di samping situs ada dua buah pohon besar. Pohon yang satu karena usianya tua sampai berlubang, mirip pintu, dan dapat dimasuki orang dewasa.

Telaga Bolangirit 
Dari situs Lingga dan Yoni, dapat melanjutkan ke Dusun Pengebonan hanya sekitar satu kilometer. Teruslah ke arah barat, belok kiri, lalu ke arah barat lagi, ada sebuah telaga. Diberi nama Telaga Bolangirit. Telaga ini di jaman dahulu tentu sangat layak untuk tempat mandi para putri kerajaan, minimal putri-putri padepokan setempat. Airnya bening dan melimpah. Di sebelah utara dihiasi dengan beberapa pohon beringin yang besar-besar.Merupakan sebuah pemandangan yang  khas di sebuah kolam air di pegunungan. 

Curug Cingongah 
Hanya dua ratus meter dari Telaga Bolangirit, terdapat sebuah air terjun yang cukup tinggi, bagian dari Sungai Lembarang. Masyarakat setempat menyebutnya Curug Singongah. Curug ini dikelilingi tebing dengan tanaman liar yang seperti tertata rapi. Ada tiga air terjun, di tengah sungai, kiri, dan kanan. Anak desa cenderung bermain dari tebing sebelah kiri terjun ke kolam yang luas. Untuk menuju ke pusat curug pengunjung harus melalui jalan setapak di tebing sungai. Curug Singongah dapat ditempuh dari dua arah. Yang pertama dari Telaga Bolangirit, Dusun Pengebonan dan yang kedua dari Desa Bumisari.
Bagi Anda yang suka Hiking atau Trekking, untuk  menuju Curug Singongah adalah hal yang mengasyikkan. Jalannya masih cukup sulit, benar-benar jalan setapak di tebing sungai yang cukup curam,benar-benar menantang adrenalin karena jalanan cenderung berair karena di dinding tebingnya . 

Watu Tulis 
Hanya dua ratus meter dari Telaga Bolangirit ke arah barat ada sebuah prasasti tulis berhuruf Jawa Kuno yaitu Watu Tulis. Sebuah peninggalan sejarah, sebuah prasasti, batunya sebesar gajah gemuk.Sudah bertahun-tahun tulisan di Watutulis ini belum terterjemahkan. Namun tahun 1983, Drs. Kusen dari Fakultas Sastra UGM Jurusan Arkeologi, berhasil membaca tulisan di Watutulis. Bunyinya “Indra Wardana Wikrama Deva”. Menurut dugaannya, kalimat ini adalah nama seorang raja jaman dahulu yang kekuasaannya sampai di wilayah Watutulis, Dusun Pengebonan. Namun siapa raja ini dan dari negeri mana, ternyata belum dapat dipastikan. Prasasti batu ini konon mengandung daya magnet yang paling kuat se Nusantara. Jarum kompas petunjuk arah jika didekatkan ke Watutulis bisa membalik arahnya 180 derajat. Kemungkinan batu ini berasal dari pecahan meteor.
Blog, Updated at: 04:51

1 komentar: